Artikel Terbaru

Bagaimana cara beriman kepada kitab-kitab sebelum al Quran? Iman kepada kitab  -kitab   Allah adalah salah rukun iman yg wajib  diimani oleh...

Bagaimana cara beriman kepada kitab-kitab sebelum al Quran? Iman kepada kitab  -kitab   Allah adalah salah rukun iman yg wajib  diimani oleh setiap muslim. Bagaimana beriman kepada buku Allah? Simak pembahasan berikut. Semoga Allah  ‘Azza wa Jalla menampakan pada kita aqidah yang lurus.

Urgensi Iman kepada Kitab Allah


Iman pada kitab   yang Allah turunkan adalah salah  satu ushul (landasan) iman dan merupakan rukun iman yg enam. Iman yang dimaksud merupakan pembenaran yg disertai keyakinan bahwa kitab  -buku Allah haq & sahih. Kitab-buku tadi merupakan kalam Allah ‘Azza wa jalla yang di dalamnya masih ada petunjuk & cahaya pada umat yg turun kepadanya buku tadi. Diturunkanya kitab   adalah di antara bentuk afeksi Allah  pada hambanya lantaran besarnya kebutuhan hamba terhadap kitab   Allah. Akal insan terbatas, tidak bisa meliputi rincian hal-hal yg dapat menaruh manfaat dan mengakibatkan madharat bagi dirinya.

bagaimana cara beriman kepada kitab-kitab sebelum al quran


Cakupan Iman Kepada Kitab Allah


Iman kepada buku Allah wajib  mencakup empat masalah :

Pertama: Mengimani bahwa turunnya buku-buku Allah sahih-benar menurut sisi Allah Ta’ala.

Kedua: Mengimani nama-nama buku yg kita ketahui namanya seeprti Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Taurat yang diturunkan pada Nabi Musa ‘alaihis salaam, Injil yg diturunkan pada Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam, & Zabur yang diturunkan pada Nabi Dawud ‘alaihis salaam. Sedangkan yang nir kita ketahui namanya, kita mengimaninya secara dunia.

Ketiga: Membenarkan fakta-beritanya yg benar, misalnya liputan mengenai Al Quran, & fakta-warta  lain yang nir diganti atau diubah menurut iktab-kitab   terdahulu sebelum Al Quran.

Keempat: Mengamalkan aturan-hukumnya yg nir dihapus, dan ridho dan tunduk menerimanya, baik kita mengetahui hikmahnya juga nir.  (Syarh Ushuulil Iman, hal 30)

Kitab-Kitab Sebelum Al Quran Telah Dimansukh (Dihapus)


Seluruh kitab  -buku terdahulu telah termansukhkan (terhapus) sang Al Quran Al ‘Adziim. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنزَلْنَآإِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ …48

“Dan Kami sudah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yg sebelumnya, yaitu buku-buku (yg diturunkan sebelumnya) & menjadi muhaimin terhadap kitab  -buku yg lain itu…” (QS. Al Maidah: 48). Maksud “muhaimin” merupakan Al Quran sebagai haakim (yang memutuskan benar atau tidaknya, ed) apa yang terdapat dalam kitab  -kitab   terdahulu. Berdasarkan hal ini, maka nir dibolehkan mengamalkan hukum apapun dari aturan-hukum kitab   terdahulu, kecuali yang sahih dan diakui oleh Al Quran.  (Syarh Ushuulil Iman, hal 30-31)

Kitab-buku terdahulu semuanya mansukh (dihapus) dengan turunnya Al Quran Al ‘Adziim yang telah Allah jamin keasliannya. Karena Al Quran akan tetap menjadi hujjah bagi seluruh makhluk hingga hari kiamat kelak. Dan sebagai konsekuensinya, tidak boleh berhukum dengan selain Al Quran pada kondidi apapun. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ,

…فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً 59

“…Kemudian jika engkau  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), bila engkau  sahih-sahih beriman pada Allah & hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) & lebih baik akibatnya.”  (QS. An Nisaa’: 59). (Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, hal 33)

Setiap Rasul Memiliki Kitab


Setiap Rasul memiliki kitab  . Dalilnya dalah firman Allah,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ … 25

“ Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami menggunakan membawa bukti-bukti yg konkret & sudah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan)…” (QS. Al Hadiid: 25)

Ayat ini menjadi dalil bahwa setiap rasul mempunyai buku, namun kita nir mengetahui semua buku. Kita hanya mengetahuii sebagiannya, seperti shuhuf Ibrahim & Musa, Taurat, Zabur, Injil, dan Al Quran. Kita mengimani setiap kitab   yg diturunkan kepada para rasul. Jika kita tidak mengetahuinya, maka kewajiban kita merupakan beriman secara dunia. (Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah, hal 40)

Sikap Manusia Terhadap Kitab yg Allah Turunkan


Manusia  terbagi sebagai 3 golongan dalam menyikapi buku samawi yang Allah turunkan:

Golongan pertama: Orang-orang yg mendustakan semuanya. Mereka merupakan musuh-musuh para rasul berdasarkan kalangan orang kafir, orang musyrik, dan ahli filsafat.

Golongan kedua: Orang-orang mukmin yang beriman terhadap semua rasul dan kitab   yg diturunkan pada mereka. Sebagaimana Allah firmankan,

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ … 285

“Rasul sudah beriman kepada Al Qur’an yg diturunkan kepadanya menurut Tuhannya, demikian jua orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, buku-buku-Nya dan rasul-rasul-Nya…” (QS. Al Baqoroh: 285).

Golongan ketiga: Orang-orang Yahudi dan Nashrani dan yang mengikuti jalan mereka. Mereka berkata,

… نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ … 91

“…Kami hanya beriman pada apa yg diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir pada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak. Yang membenarkan apa yg ada pada mereka,,,” (QS. Al Baqoroh: 91).

Mereka beriman terhadap sebagian kitab  , namun kufur dengan sebagian yg lain. Allah berfirman mengenai mereka,

… أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَاجَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيُُفيِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلىَ أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ 85

“ … Apakah engkau  beriman pada sebahagian Al Kitab (Taurat) & ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan global, & pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yg sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” (QS. Al Baqoroh:85).

Tidak ragu lagi bahwa beriman menggunakan sebagian kitab   dan kufur menggunakan sebagian yang lain sama saja menggunakan kufur terhadap semuanya.  Karena keimanan wajib  mencakup menggunakan semua buku samawi & seluruh para rasul, tidak memebdakan & menyelisihi  sebagiannya. Allah Ta’ala mencela orang-orang yang membedakan & menyelisihi kitab  , sebagaimana firman-Nya,

… وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ 176

“…dan sesungguhnya orang-orang yg berselisih mengenai (kebenaran) Al Kitab itu, benar-sahih pada penyimpangan yg jauh (berdasarkan kebenaran)” (QS. Al Baqoroh:176). (Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad, hal 143-144)

Mengimani Al Quran dengan Benar


Termasuk keimanan pada buku Allah adalah beriman kterhadap Al Quran yg diturunkan pada Nabi Terakhir, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Keimanan terhadap Al Quran yang benar sebagaimana diungkapakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada pada kitab   dia al ‘Aqidah al Washitiyah. Beliau mengatakan,  “ Termasuk keimanan pada Allah & kitab  -buku-Nya yaitu beriman bahwa Al Quran adalah kalam Allah yang diturunkan dan bukan makhluk. Al Quran dari berdasarkan-Nya & akan kembali pada-Nya. Alllah Ta’ala berbicara secara hakiki. Dan sesungguhnya Al Quran yang diturunkan pada Muhammad adalah kalam Allah yg hakiki & bukan kalam selain-Nya. Tidak boleh memutlakkan perkataan bahwa Al Quran adalah hikayat berdasarkan kalam Allah atau adalah ungkapan (ibaroh) dari kalam Allah. Bahkan bila manusia membacanya & menulisnya dalam mushaf bukan berarti menafikan bahwa Al Quran adalah kalam Allah yang hakiki. Karena kalam hanya disandarkan secara hakiki pada yang pertama kali mengucapkannya bukan pada yang menyampaikannya kemudian. Al Quran merupakan kalam Allah baik alfabet  dan maknanya, bukan hanya huruf tanpa makna atau makna tanpa alfabet .” (matan al ‘Aqidah al Washitiyah)

Faedah Iman Kepada Kitab Allah


Iman kepada kitab  -buku Allah akan menjadikan faedah yg agung, pada antaranya :

Pertama: Mengetahui perhatian Allah terhadap para hambanya dengan menurunkan buku pada setiap kaum menjadi petunjuk bagi mereka.

Kedua: Mengetahui nasihat Allah Ta’ala mengenai syariat-syariat-Nya, di mana Allah sudah menurunkan syariat buat setiap kaum yg sinkron menggunakan syarat mereka, sebagaimana yang Allah firmankan,

… لِكُّلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا … 48

“…Untuk tiap-tiap umat diantara kamu , Kami berikan anggaran & jalan yg terperinci…” (QS. Al Maidah: 48).

Ketiga: Mensyukuri nikmat Allah berupa diturunkanya buku-kitab  (sebagai pedoman & petunjuk, ed). (Syarh Ushuulil Iman, hal 31).

Demikianlah secara ringkas aqidah ahlussunnah mengenai iman kepada kitab   kudus dan bagaimana cara beriman kepada kitab-kitab sebelum al quran seperti dikutip dari muslim.or.id yang semoga berguna.


Baca selengkapnya »
Bagaimana Cara Salat Makmum yang Tertinggal Bacaan al Fatihahnya Imam

Bagaimana Cara Salat Makmum yang Tertinggal Bacaan al Fatihahnya Imam

Bagaimana cara salat makmum yang tertinggal bacaan al Fatihahnya imam? Makmum ketinggalan al fatihah yg dibaca imam di shalat jahr, walaupun basmalah saja, maka si makmum tidak menerima raka’atnya, apakah makmum wajib  menyempurnakan shalatnya selesainya imam salam ?

Pendapat yg dikuatkan sang Imam syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar bahwa makmum itu harus mendapatkan imam membaca al-fatihah secara lengkap. Pendapat ini dia simpulkan berdasarkan sabda rasulullah shallahu alaihi wassalam:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَتِ الكِتَابِ
"Tidak paripurna shalat seseorang yg tidak membaca al-fatihah"

Bagaimana cara salat makmum yang tertinggal bacaan al Fatihahnya imam? Makmum ketinggalan al fatihah yg dibaca imam di shalat jahr, walaupun basmalah saja, maka si makmum tidak menerima raka’atnya, apakah makmum wajib  menyempurnakan shalatnya selesainya imam salam ?


Menurut ulama pada perseteruan ini berbeda-beda sinkron menggunakan perbedaan jenis shalat & syarat dalam mendirikan shalat tadi.

1. Shalat sirriyyah/shalat sendiri yang tidak berjamaah, maka ulama putusan bulat bahwa bacaan al-fatihah merupakan wajib , bahkan rukun shalat, setiap orang harus membacanya,

dua. Shalat jahriyyah & dalam posisi makmum, maka para ulama berselisih pendapat, apakah makmum mendengar bacaan imam atau harus membaca al fatihah?Dan perseteruan ini, pendapat yg lebih bertenaga merupakan makmum tetap berkewajiban membaca al-fatihah. (bisa dibaca sehabis imam/disela-sela bacaan imam).

Tiga. Shalat sebagai makmum akan tetapi pada kondisi masbuq, bila berkemampuan membaca al-fatihah maka lakukan hingga selesai. Tetapi jika tidak tidak terselesaikan membaca dikarenakan imam kebeburu ruku maka ikuti imam ruku walau bacaan al fatihah tidak terselesaikan.

Pada kondisi no.Tiga ini, para ulama berselisih pendapat, apakah makmum tadi mendapatkan raka’at/tidak, dikarenakan ruku sebelum menuntaskan bacaan al-fatihah?

Pendapat yg bertenaga menyatakan bahwasanya makmum tersebut (no.3) menerima 1 rakaat, menurut hadist teman Abu Bakrah yg menerima Nabi shallallahu alaihi wassallam sedang ruku maka beliau bergegas ruku sembari berjalan bergabung ke shaf barisan shalat tuk mengikuti gerakan shalat nabi.

Makmum tertinggal bacaan al fatihah

Pada kisah ini, Nabi tidak memerintahkan shahabatnya Abu bakrah buat mengulang shalat yang beliau tertinggal, tetapi dia hanya mengingatkan Abu bakrah supaya tidak mengulangi sikapnya ruku pada belakang shaf sambil berjalan menuju shaf. Beliau bersabda:


زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَ لاَ تَعُدْ
“semoga engkau  bertambah rajin dan janganlah engkau  mengulanginya lagi”. (al-Bukhari)

Dengan demikian dapat dipahami bahwa jamaah yg mendapatkan imamnya sedang membaca surat, tentu lebih pantas untuk dipercaya telah mendapatkan raka’at tadi. Terlebih Nabi shallallahu alahi wassalam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ
“barangsiapa mempunyai imam, maka bacaan imamnya adalah bacaannya”. (HR.Ibnu majah dan lainnya).

الإِمَامٌ ضَامِنٌ وَ المُؤَذُّ مُؤْتَمِنٌ
“imam itu menanggung sedangkan muadzin itu merupakan orang yg menerima jujur (buat memilih saat shalat)”. (HR.Abu daud dll).

Sumber :Majalah As-sunnah edisi 01/Thn XVII (ditulis ulang & sedikit gaya penulisan sang admin

Membaca Al Fatihah Dalam Shalat (1)
Yulian Purnama 25 February 2014 tiga Comments
Share on Facebook
Share on Twitter
Membaca Al Fatihah Dalam Shalat (1)
Sudah kita ketahui beserta bahwa Al Fatihah merupakan surat yang agung yg dibaca setiap Muslim dalam shalatnya. Pada artikel kali ini akan dibahas bagaimana hukum membaca Al Fatihah dalam shalat & tata caranya.

Hukum Membaca Al Fatihah
Jumhur ulama menyatakan membaca Al Fatihah merupakan termasuk rukun shalat. Tidak sah shalat tanpa membaca Al Fatihah. Diantara dalilnya merupakan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“tidak terdapat shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab” (HR. Al Bukhari 756, Muslim 394)

didukung juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

كلُّ صلاةٍ لا يُقرَأُ فيها بأمِّ الكتابِ ، فَهيَ خِداجٌ ، فَهيَ خِداجٌ

“setiap shalat yg pada dalamnya tidak dibaca Faatihatul Kitaab, maka dia stigma, maka ia cacat” (HR. Ibnu Majah 693, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Jadi, membaca Al Fatihah merupakan rukun shalat & inilah yg benar insya Allah.

Adapun Abu Hanifah, beliau beropini bahwa membaca Al Fatihah itu bukan rukun shalat, tidak wajib  membacanya. Beliau berdalil dengan ayat:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“maka bacalah ayat-ayat yg mudah dari Al Qur’an” (QS. Al Muzammil: 20)

Jawabannya, kata فَاقْرَءُو (bacalah) di sini adalah lafadz muthlaq, sedangkan terdapat qayd-nya pada hadits-hadits Nabi yg sudah disebutkan bahwa di sana dinyatakan bacaan Al Qur’an yang wajib  di baca pada shalat adalah Al Fatihah. Sesuai kaidah ushul fiqh, yajibu taqyidul muthlaq bil muqayyad, harus membawa makna lafadz yg muthlaq pada yang muqayyad.

Al Fatihah harus pada baca dalam setiap raka’at. Berdasarkan penjelasan Abu Hurairah radhiallahu’anhu berikut:

في كلِّ صلاةٍ قراءةٌ ، فما أَسْمَعَنَا النبيُّ صلى الله عليه وسلم أَسْمَعْناكم ، وما أخفى منا أَخْفَيْناه منكم ، ومَن قرَأَ بأمِّ الكتابِ فقد أَجْزَأَتْ عنه ، ومَن زادَ فهو أفضلُ

“dalam setiap raka’at ada bacaan (Al Fatihah). Bacaan yg diperdengarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada kami, sudah kami perdengarkan kepada kalian. Bacaan yang Rasulullah lirihkan telah kami contohkan pada kalian buat dilirihkan. Barangsiapa yg membaca Ummul Kitab (Al Fatihah) maka itu mencukupinya. Barangsiapa yang menambah bacaan lain, itu lebih afdhal” (HR. Muslim 396)

Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “membaca Al Fatihah adalah rukun di setiap rakaat, dan telah shahih menurut Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau membacanya pada setiap raka’at” (Al Mulakhash Al Fiqhi, 1/127).

Hukum Membaca Al Fatihah Bagi Makmum
Apakah status rukun & hukum harus membaca Al Fatihah itu berlaku buat seluruh orang yg shalat? Para ulama sepakat wajibnya membaca Al Fatihah bagi imam dan orang yang shalat sendirian (munfarid). Tetapi bagi makmum, hukumnya di perselisihkan oleh para ulama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa war Rasail (13/119) menyampaikan: “para ulama tidak sinkron pendapat mengenai aturan membaca Al Fatihah sebagai beberapa pendapat:

Pendapat pertama: Al Fatihah tidak harus baik bagi imam, juga makmum, ataupun munfarid. Baik shalat sirriyyah1 maupun jahriyyah2. Yang harus adalah membaca Al Qur’an yang gampang dibaca. Yang beropini demikian berdalil dengan ayat (yg artinya) “maka bacalah ayat-ayat yg mudah menurut Al Qur’an” (QS. Al Muzammil: 20) dan juga menggunakan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pada seorang: ‘bacalah apa yg gampang bagimu berdasarkan Al Qur’an‘” (HR. Al Bukhari 757, Muslim 397).
Pendapat kedua: membaca Al Fatihah merupakan rukun bagi imam, makmum, juga munfarid. Baik shalat sirriyah maupun jahriyyah. Juga bagi orang yg ikut shalat jama’ah sejak awal.
Pendapat ketiga: membaca Al Fatihah itu rukun bagi imam & munfarid, namun tidak wajib  bagi makmum secara absolut, baik pada shalat sirriyyah maupun jahriyyah.
Pendapat keempat: membaca Al Fatihah merupakan rukun bagi imam & munfarid pada shalat sirriyyah & jahriyyah. Tetapi rukun bagi makmum dalam shalat sirriyyah saja, jahriyyah nir.” [selesai nukilan]
Ada beberapa pendapat lain dalam masalah ini, namun khilafiyah pada kasus ini berporos pada 3 hal:

Pertama: Adanya perintah buat membaca Al Fatihah dan penafian shalat jika tidak membacanya
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, “membaca Al Fatihah adalah rukun bagi semua orang yang shalat, tidak terdapat seorangpun yang dikecualikan, kecuali makmum masbuq yang mendapati imam telah ruku’, atau menerima imam masih berdiri tetapi telah tidak sempat membaca Al Fatihah beserta imam. Dalilnya merupakan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“tidak terdapat shalat bagi orang yg tidak membaca Faatihatul Kitaab”

sabda beliau ‘tidak terdapat shalat‘ adalah penafian. Asal penafian adalah menafikan wujud (keberadaan), apabila tidak mungkin dimaknai penafian wujud maka maknanya penafian keabsahan. Dan penafian keabsahan itu merupakan penafian wujud secara syar’i. Jika tidak mungkin dimaknai penafian keabsahan maka maknya penafian kesempurnaan. Inilah tingkatan penafian” (Syarhul Mumthi, 3/296).

Syaikh Al Utsaimin melanjutkan, “sabda Nabi ‘tidak terdapat shalat bagi orang yg tidak membaca Faatihatul Kitaab‘ apabila kita terapkan pada tiga jenis penafian tadi, maka kita dapati ada orang yg shalat tanpa membaca Al Fatihah. Sehingga tidak mungkin maksudnya penafian wujud (eksistensi). Sehingga jika terdapat orang yg shalat tanpa membaca Al Fatihah, maka shalatnya tidak absah, karena tingkatan penafian yg ke 2 adalah penafian keabsahan, sebagai akibatnya tidak absah shalatnya, Dan hadits ini umum, tidak dikecualikan sang apapun. Maka pada asalnya, nash yg generik tetap dalam keumumannya. Tidak sanggup dikhususkan kecuali menggunakan dalil syar’i, yaitu nash lain, ijma, atau qiyas yang shahih. Dan tidak ditemukan satu menurut 3 macam dalil ini yang mengkhususkan keumuman hadits ‘tidak ada shalat bagi orang yg tidak membaca Faatihatul Kitaab‘” (Syarhul Mumthi, tiga/297).

Kedua: Adanya perintah buat membisu ketika mendengarkan bacaan Al Qur’an
Diantaranya firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا قُرِىءَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan diamlah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al A’raf: 204).

Imam Ahmad mengomentari ayat ini, beliau mengatakan: “para ulama ijma bahwa perintah yg terdapat pada ini maksudnya pada pada shalat” (Syarhul Mumthi, 3/297).

Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berdasarkan sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

إنما جُعل الإمامُ ليؤتمَّ به ، فلا تَختلفوا عليه ، فإذا كبَّر فكبِّروا ، وإذا قرَأ فأنصِتوا

“sesungguhnya dijadikan seorang imam dalam shalat adalah buat diikuti, maka jangan menyelisihinya. Jika ia bertakbir, maka bertakbirlah, jika beliau membaca ayat, maka diamlah” (HR. An Nasa-i 981, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa-i, ashl hadits ini masih ada dalam Shahihain)

Tambahan وإذا قرَأ فأنصِتوا (jika ia membaca ayat, maka diamlah), diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berkata ini merupakan tambahan yg syadz, Abu Daud mengungkapkan: “tambahan ini ‘bila beliau membaca ayat, maka diamlah‘ merupakan tambahan yang tidak mahfuzh, yang masih wahm (samar) bagi saya merupakan Abu Khalid”. Sebagian ulama berkata tambahan tersebut adalah tambahan yang tsabit (shahih). Yang rajih, tambahan tersebut tsabit, karena

Abu Khalid perawi hadits tersebut merupakan Sulaiman bin Hayyan Al Ja’fari, beliau statusnya shaduq. Abu Hatim berkata: “dia shaduq”, Ibnu Hajar mengatakan “shaduq yukhthi’”.
Tambahan tersebut mempunyai jalan lain berdasarkan Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu yang menguatkannya.
Tambahan dalam matan mampu menjadi syadz apabila matannya menyelisihi periwayatan lain yang lebih poly & lebih tsiqah. Adapun tambahan tadi tidak mengandung penyelisihan atau kontradiksi terhadap periwayatan lain yg lebih tsiqah.
Sehingga menurut dalil-dalil ini, sebagian ulama mengatakan bahwa makmum wajib  membisu mendengarkan imam membaca Al Fatihah & ayat Al Qur’an.

Ketiga: Dalam shalat sirriyyah makmum wajib  membaca Al Fatihah
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan, “adapun dalam shalat sirriyyah, para teman sudah menetapkan bahwa mereka biasa membaca Al Qur’an ketika itu. Jabir radhiallahu’anhu mengungkapkan:

كنا نقرأ في الظهر والعصر خلف الإمام في الركعتين الأوليين بفاتحة الكتاب وسورة وفي الأخريين بفاتحة الكتاب

“kami biasa membaca ayat Al Qur’an dalam shalat zhuhur & ashar di belakang imam pada dua rakaat pertama beserta dengan Al Fatihah, & pada dua ayat terakhir biasa membaca Al Fatihah (saja)” (HR. Ibnu Maajah menggunakan sanad shahih dan masih ada dalam Al Irwa’ (506))” (Ikhtiyarat Fiqhiyyah Imam Al Albani, 120).

Sehingga pada shalat sirriyyah makmum permanen harus membaca Al Fatihah secara lirih & dalam hal ini masuk pada keumuman hadits :

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“tidak terdapat shalat bagi orang yg tidak membaca Faatihatul Kitaab” (HR. Al Bukhari 756, Muslim 394)

Demikianlah artikel tentang bagaimana cara salat makmum yang tertinggal bacaan al fatihahnya imam yang semoga bermanfaat.

Seperti dikutip dari muslim.or.id

Baca selengkapnya »
Bagaimana Cara Kita Meneladani Asmaul Husna Al-Karim

Bagaimana Cara Kita Meneladani Asmaul Husna Al-Karim

Bagaimana cara kita meneladani asmaul husna al karim? Pada kesempatan kali ini admin akan mengulas mengenai cara meneladani Asmaul Husna Al-Karim, Al-Mu’min, Al-Wakill, Al-Matiin, Al-Jamii’ & Al-Akhir.

Pertama, admin akan bahas tentang cara meneladani Asmaul Husna al-Karim. Ada tujuh contoh sikap pada kita meneladani asmaul husna al-karim, yaitu :

  1. Berupaya menjadi orang yg dermawan. Orang yg senang memberi akan menyedekahkan sebagian harta bendanya buat kemaslahatan umat atau menolong kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Kenapa demikian? Karena segala yg kita miliki sebenarnya bukanlah milik kita. Akan namun milik Allah yg dititipkan kepada kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya harta kita digunakan buat kebaikan beserta.
  2. Menanamkan sifat mulia pada diri kita sehingga kita sebagai seorang mukmin yang berakhlak terpuji. Dengan demikian, Allah Yang Maha Mulia akan menyayangi kita karena kita menerapkan sifat mulia yang memunculkan kemuliaan.
  3. Menanamkan sifat pemurah dalam diri kita. Allah swt sangat mengasihi orang yang bersifat pemurah dan Dia membenci orang yg bersifat kikir.
  4. Menumbuhkan rasa cinta yg pada pada diri kita terhadap orang lain secara tulus. Allah sangat mengasihi pada hamba-hamba-Nya dengan memberi kasih sayang yang melimpah. Oleh karenanya, sangatlah pantas jika kita saling menyayangi & menyayangi pada antara sesama manusia.
  5. Menumbuhkan sifat senang memuliakan tetangga, tamu dan orang lain. Memuliakan tetangga, tamu dan orang lain adalah galat satu lahan yang baik buat menjalin silaturahmi. Kenapa demikian? Lantaran dengan memuliakan mereka dapat membukakan pintu-pintu rezeki. Di samping itu, kita akan dimuliakan sang mereka. Bukankah hal ini merupakan balasan yg setimpal? Dan secara otomatis kita sudah melaksanakan perintah Rasulullah noticed.
  6. Menjadi seorang pemaaf,karena Allah menyukai sifat pemaaf. Sifat pemaaf inilah akan membuat kita sebagai seseorang yang hatinya lapang dan merasa semakin ringan apabila menghadapi aneka macam perkara yang berat. Seorang pemaaf yang mau memaafkan keasalahan orang lain terhadap dirinya termasuk orang yang sangat mulia pada hadapan Allah swt. Perlu diketahui bahwa bila seseorang mukmin berkenan lapang dada memaafkan orang lain atas kesalahan yg diperbuatnya, maka derajat kemuliaannya akan ditambah oleh Allah swt. Hal ini sinkron menggunakan sabda Rasulullah saw: “Tidaklah seorang memaafkan, melainkan Allah tambah kemuliaannya.”
  7. Berupaya menghiasi diri kita menggunakan keimanan & ketakwaan agar bisa meraih kemuliaan. Perilaku-konduite takwa ini akan mendapat balasan yg setimpal berupa kebaikan, kebahagiaan, dan kemuliaan di hadapan Allah & manusia.

bagaimana cara kita meneladani asmaul husna al karim


Kedua, admin akan bahas mengenai cara meneladani Asmaul Husna Al-Mu’min. Ada sembilan contoh perilaku dalam kita meneladani asmaul husna al-mu’min, yaitu :

  • Senantiasa mengkampanyekan nilai-nilai kejujuran. Kejujuran merupakan suatu sikap apa adanya yang keluar dari hati nurani setiap insan. Nilai-nilai kejujuran inilah yg menjadi dasar buat menciptakan kebaikan, kemaslahatan, & kesejahteraan pada suatu warga , bangsa, & negara.
  • Memberi rasa kondusif kepada orang lain supaya kelak sebagai orang yg terpercaya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara hidup amanah, menepati janji, memelihara amanat, & tidak berkhianat. Sehingga kita bisa memberikan rasa aman terhadap sesama manusia. Selain itu, kita tidak akan berbuat zalim pada orang lain.
  • Memiliki kepedulian buat menolong kepada orang lain atau hati kita tergerak untuk menolong saudara muslim saat membutuhkan donasi, maka kita jua akan memberi rasa aman pada mereka sebagai akibatnya kita memiliki sifat-sifat yg dimiliki sang orang mukmin.
  • Membina kehidupan yang hening dengan tidak menciptakan onar, perkelahian, pertengkaran, tawuran, dan segala bentuk perbuatan yg meresahkan rakyat. Hendaklah ekspresi & tangan kita serta segala tindakan kita harus menyebabkan rasa kondusif bagi diri kita dan orang lain.
  • Menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan keselamatan ketika terjadi kecelakaan atau bala alam. Dengan demikian, kita dapat membantu mereka buat keluar dari bahaya dan berupaya meringankan penderitaannya.
  • Mau meminta proteksi pada Allah. Kenapa demikian? Lantaran dalam dasarnya manusia merupakan lemah. Mereka kebanyakan takut terkena penyakit, miskin, kelaparan & kehausan, bahkan takut tertimpa keburukan yang besar . Dengan rasa takut inilah kita memohon proteksi dan pertolongan berdasarkan Allah.
  • Menjaga iman kita sampai mangkat  dunia. Kenapa demikian? Tiada suatu pun pada kehidupan ini yg lebih berharga bagi kita daripada iman. Dengan bekal iman yg benar, kita mampu merasakan indahnya kehidupan dunia dan nikmatnya kehidupan akhirat. Sebab orang yg meninggal dengan permanen memegangi imannya, maka beliau akan masuk nirwana menggunakan segala keindahannya, & orang yang mati dengan tidak mempunyai iman, maka kelak beliau akan masuk neraka menggunakan segala kepedihannya.
  • Berusaha sebagai orang mukmin yang bertakwa. Harus kita sadari bahwa Allah kelak akan menuntut dan memberi keadilan pada setiap umat manusia. Semuanya akan dibuka dengan sebenar-benarnya. Perbuatan baik dan buruknya seorang, meskipun sangat mini   akan diketahui. Jadi, jika kita selama pada dunia sahih-benar beriman & bertakwa pada Allah, tentu kenikmatan yang besar  dan abadi akan kita peroleh. Tetapi bila keburukan yg selalu kita perbuat, siksalah yang akan selalu menemani kita. Oleh karena itu,langkah terbaik kita adalag berupaya buat melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
  • Menjadi orang yang terpercaya. Untuk sebagai orang yg terpercaya tidaklah mudah, poly godaan yang selalu menghampirinya. Tetapi jika kita bisa meneladani sifat Allah Al-Mu’min & menjadikannya panduan bagi kita pada bersikap dan bertindak dan menjadi penunjuk jalan buat berusaha menjadi orang yg terpercaya, maka kita kelak akan menjadi orang yg terpercaya.

Ketiga, admin akan bahas mengenai cara meneladani Asmaul Husna al-Wakil. Ada tujuh contoh perilaku dalam kita meneladani asmaul husna al-wakil, yaitu :


  1. Melakukan segala sesuatu dengan sungguh-benar-benar & diniatkan untuk mencari ridla Allah. Pekerjaan yg dilakukan dengan benar-benar-benar-benar, maka insyaallah hasilnya akan maksimal  & memuaskan.
  2. Menjalankan amanat yg diberikan kepada kita menggunakan sebaik-baiknya. Setiap amanat dan tanggung jawab yang diberikan pada kita selain dimintai pertanggungjawaban menurut Allah. Dengan demikian, apabila amanat itu bisa kita laksanakan dengan baik, maka kelak pertanggungjawabannya akan ringan daripada apabila kita mengabaikan atau mengkhianati amanat tersebut.
  3. Menghindari kemalasan dan menumbuhkan sifat bekerja keras, tekun dan giat. Orang-orang yg memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja keras, tekun & uletakan diberikan kemudahan pada berupaya. Hal ini mengindikasikan bahwa beliau telah menerapkan sikap & konduite tawakal pada Allah. Bukankah Allah menyukai orang-orang yang tawakal & membenci orang yang malas.
  4. Memasrahkan seluruh urusankepada Allah sesudah berusaha & berdoa. Orang-orang yg mau menyerahkan diri segala urusannya akan diberikan ketenangan hidup dan dihindarkan berdasarkan rasa ketakutan dalam menghadapi kehidupan yang penuh menggunakan cobaan.
  5. Menanamkan tanggung jawab yg tinggi terhadap tugas kita. Jika kita mengaku menjadi pelajar, maka kita bertanggung jawab buat selalu belajar & menuntut ilmu sampai akhir masa.
  6. Berupaya buat memelihara kesucian diri. Menjaga kesucian diri adalah wajib  bagi setiap orang yg beriman. Ini merupakan panduan agar kita bisa mempertahankan kesucian diri.
  7. Mau berintrospeksi diri berdasarkan perilaku & perilaku yang kita lakukan.Dalam hidup kita tidak terlepas menurut perbuatan yang tidak baik atau kesalahan yang sudah kita lakukan. Tapi terkadang kita nir pernah menyadari perbuatan itu. Maka kita perlu introspeksi diri & segera bertobat. Karena Allah memerintahkan kita supaya selalu memperhatikan apa yang kita kerjakan menjadi bekal kehidupan di akhirat. Hikmah dari introspeksi diri ini merupakan memperbaiki diri kita, menghilangkan sifat sifat tidak baik & merubahnya menjadi perilaku terpuji.

Keempat, admin akan bahas tentang cara meneladani Asmaul Husna al-Matiin. Ada tujuh model perilaku pada kita meneladani asmaul husna al-matiin, yaitu :


  1. Menerapkan perilaku disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa demikian? Karena kunci sukses pada hidup merupakan sikap disiplin yang kita wujudkan pada berbagai bidang kehidupan kita. Tanpa disiplin yg tinggi mustahil sebuah kesuksesan mampu diraih. Menerapkan perilaku disiplin memang sulit. Disiplin bisa dijalankan sang setiap individu jika ia tulus dan ridla menjalankannya.
  2. Beribadah menggunakan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan sang bisikan setan atau iblis menyesatkan. Setan atau iblis sangat tidak senang apabila ada hamba Allah yg nrimo, khusyuk, dan bersungguh-sungguh pada melaksanakan ibadah. Oleh karenanya, kita harus berupaya keras buat permanen bersemangat dalam beribadah tanpa harus tergoda sang bujuk rayu setan.
  3. Terus berusaha & nir putus harapan dalam berusaha dan menghadapi cobaan. Semangat inilah akan memberikan jalan atau solusi untuk mencapai harapan & harapan serta bersemangat buat selalu keluar menurut cobaan.
  4. Bekerja sama menggunakan orang lain sehingga menjadi lebih bertenaga. Saat kita tidak sanggup berusaha secara sendirian, maka langkah terbaik merupakan menjalin kerjasama menggunakan orang lain sehingga bisa menaruh kekuatan baru pada berupaya dan mencapai keinginan yg lebih baik.
  5. Memenuhi kebutuhan langsung secara berdikari. Dengan sifat mandiri inilah kita nir akan bergantung kepada orang lain. Di samping itu, sifat berdikari akan mengantarkan kita kepada diri yg bertenaga dalam menghadapi tantangan hayati yang semakin rumit dan berat.
  6. Tidak menggantungkan kepada selain Allah pada memenuhi kebutuhan. Hal ini dilatarbelakangi lantaran segala sesuatu yang diberikan kepada kita merupakan berasal berdasarkan Allah. Untuk itulah, dengan bersandar dalam Allah Yang Maha Kokoh, akan menciptakan kita menjadi lebih bertenaga, andal, dan hebat.
  7. Berusaha menggunakan kekuatan yang dimiliki buat hal-hal yang diridlai Allah. Setiap manusia diberikan kekuatan dan kemampuan yg berbeda-beda. Untuk itulah, kekuatan dan kemampuan yang terdapat pada kita hendaknya digunakan buat kebaikan dan kemaslahatan umat sebagai akibatnya kita mendapat ridla Allah.

Kelima, admin akan bahas mengenai cara meneladani Asmaul Husna al-Jamii’. Ada 5 contoh perilaku pada kita meneladani asmaul husna al-jamii’, yaitu :


  1. Mau berhubungan dengan orang lain Tidak ada satu masalah pun yg nir bisa diselesaikan menggunakan kerjasama. Sesulit apapun masalah pasti mampu diselesaikan dengan kerjasama/musyawarah. Manusia sebagai makhluk sosial ditakdirkan oleh Allah untuk berafiliasi.
  2. Hidup berdampingan secara harmonis dengan sesama manusia dan makhluk Allah yg lain. Kita sebagai makhluk sosial harus menyadari bahwa kehidupan kita membutuhkan orang lain & makhluk Allah yg lainnya. Untuk itulah, sudah sepantasnya kita wajib  menjalin hidup menggunakan mereka secara harmonis & tanpa merusak atau menyakitinya.
  3. Menjaga pergaulan yang baik. Hal ini dapat kita lakukan dengan cara memilih sahabat dan sahabat yang bisa membawa pada kebaikan. Teman atau teman yg baik akan memberikan bimbingan & motivasi bagi kita buat selalu berbuat baik & memperbaiki diri.
  4. Memperbanyak silaturahim. Dengan acapkali bersilaturahmi akan menaruh manfaat yg begitu akbar bagi kita, pada antaranya bisa membuka pintu rezeki, memperpanjang umur, & memberikan solusi atas permasalahan yang kita hadapi.
  5. Tidak berbuat sombong terhadap makhluk Allah di global ini, tetapi saling bekerja sama buat menggapai ridla Allah. Sikap rendah hati yg kita tunjukkan pada orang lain akan membawa rasa penghargaan, penghormatan, dan kemuliaan yg tinggi. Sedangkan kesombongan yg kita tunjukkan kepada orang lain akan merendahkan kita dan menciptakan kita menjadi terasing.

Keenam, admin akan bahas mengenai cara meneladani Asmaul Husna al-Adl. Ada sepuluh model sikap pada kita meneladani asmaul husna al-adl, yaitu :

  1. Berbicara, bersikap, & bertingkah laku  terhadap orang lain dengan baik. Kalau kita merasa sakit hati bila diejek, maka orang lain jua akan merasa sakit hatinya ketika diejek. Oleh karenanya, jangan pernah mengejek orang lain. Keadilan dalam berbuat inilah selalu menyertai kita pada kehidupan sehari-hari.
  2. Jangan melakukan sesuatu yang didasari atas rasa murka , dendam, atau kepentingan diri sendiri, karena hal itu berakibat seorang berlaku nir adil. Adil adalah kemuliaan & indikasi kebaikan seorang muslim.
  3. Berusaha bertindak adil pada memberlakukan perilaku terhadap diri kita sendiri lantaran apa yg ingin kita berlakukan pada orang lain sudah kita alami. Tentu perbuatankita nir berdasarkan atas rasa marah, dendam, atau kepentingan diri sendiri sebagai akibatnya perbuatan itu nir akan merugikan orang lain. Kita akan bertindak dan berbuat sinkron dengan peraturan dan ketentuan Allah. Dengan demikian, kita akan menaruh hak-hak orang lain sinkron menggunakan hak yang mereka miliki.Menegakkan keadilan merupakan wujud pengabdian kita pada Sang Maha Adil.
  4. Kita wajib  bersyukur atas kebaikan Allah & mendapat tanpa berpretensi atau keluhan atas apapun nasib kita yang tampaknya kurang baik. Dengan demikian, mungkin misteri keadilan Allah akan terungkap kepada kita dan kita akan merasa berbahagia dengan kesenangan dan penderitaan yg asal berdasarkan Allah Yang Maha Adil.
  5. Berusaha menjadi seseorang muslim atau muslimah yang selalu berbuat adil, baik terhadap diri kita sendiri, keluarga, dan sesama makhluk Allah. Dengan berbuat adil ini, kita akan menghindari perbuatan zalim & nir akan menyakiti orang lain.
  6. Tidak membeda-bedakan sahabat pada pergaulan. Semakin kita bisa berteman dengan iapa saja yang membawa kebaikan, semakin luas jua pergaulan kita, maka nantinya akan membawa manfaat bagi kebaikan diri kita sendiri dan kemaslahatan bersama, baik kehidupan pada global juga pada akhirat.
  7. Berupaya memandang suatu perkara dengan baik. Hal ini dapat kita alami ketika kita mencari solusi terbaik atas masalah yg menimpa kita sendiri maupun orang lain, terlebih bila kita diminta buat memutusi masalah dengan adil. Dari sinilah kita harus bisa memandang dilema dengan melihat kebenarannya.
  8. Saat kita diberikan tugas untuk membagi sesuatu atau urusan eksklusif, maka kita wajib  bertindak adil sehingga nir menyebabkan rasa iri & kecemburuan pada antara pihak yg berkompeten.
  9. Berupaya untuk selalu menambah dan memperbanyak amal ibadah. Hal ini dikarenakan kelak dalam hari pembalasan Allah akan menaruh balasan yg adil bagi orang yang poly beramal & menaruh siksa bagi orang yg nir mau beribadah. Dengan demikian, kita jua akan semakin berhati-hati dalam bersikap, menyampaikan, dan berbuat karena semua akan terdapat balasannya.
  10. Tidak mementingkan suatu gerombolan  atau golongan, tetapi berusaha berada di tengah-tengah agar nir merugikan pihak-pihak yg bersangkutan. Semua orang harus menerima keadilan berdasarkan keputusan kita.

Ketujuh, admin akan bahas tentang cara meneladani Asmaul Husna al-Akhir. Ada tujuh contoh sikap dalam kita meneladani asmaul husna al-akhir, yaitu :

  1. Berani bersikap baik bagi diri kita sendiri, terhadap orang lain juga Allah swt. Hal ini mempunyai maksud bahwa kondisi baik kita didasarkan  oleh ketiga hal tadi. Oleh karenanya, apabila kita mempunyai kesalahan atau dosa pada orang lain, maka hendaknya berani meminta maaf pada diri kita sendiri, orang lain, & Allah swt sehingga kelak kita tidak menanggung beban kesalahan & dosanya di hadapan Allah.
  2. Tidak arogan di hadapan manusia & Allah. Lantaran kesombongan yang kita lakukan akan berakhir menggunakan hukuman Allah & kelak akan mendapat pembalasan yg setimpal menurut kesombongan itu.
  3. Berusaha menangguhkan segala sesuatu jika memang kurang berguna. Sehingga saat-ketika kita akan selalu terisi menggunakan segala sesuatu yang membawa manfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.
  4. Berupaya melakukan amal ibadah sampai ajal menjemput sebagai akibatnya kita mati pada keadaan membawa iman, husnul khotimah dan mempunyai bekal yg relatif buat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
  5. Tidak menunda-nunda tugas atau pekerjaan yang sebagai tanggungjawab kita. Semakin kita menahan pekerjaan, maka semakin menumpuk juga pekerjaan lainnya. Hal ini usang-kelamaan akan membuat kita menjadi stres bila tuntutan pekerjaan itu harus segera diselesaikan menggunakan hasil yang baik.
  6. Menghindari berbuat maksiat, kejahatan atau tindakan apa saja yg akan mendatangkan murka  Allah, karena waktu kita telah tewas, kelak perbuatan kita itu akan dimintai pertanggungjawaban dan mendapat balasan yang pedih.
  7. Berusaha buat selalu meningkatkan ketakwaan & amal shaleh. Hal ini bisa mengantarkan kita pada kehidupan yg baik selama di global & pada akhirat.

Itulah beberapa cara bagaimana cara kita meneladani Asmaul Husna Al-Karim, Al-Mu’min, Al-Wakill, Al-Matiin, Al-Jamii’ & Al-Akhir yang semoga berguna.

Baca selengkapnya »
Tata Cara Sholat Hajat dan Doanya

Tata Cara Sholat Hajat dan Doanya

Bagaimana sih melaksanakan tata cara sholat hajat yang benar? Apa pula keutamaan sholat ini dan bagaimana juga bacaan doanya? Sholat hajat merupakan sholat  sunnah  yang sangat dianjurkan untuk seseorang yang sedang mempunyai hajat atau keinginan agar terkabul. Dengan melaksanakan sholat hajat ini seseorang berharap keinginannya ataupun hajatnya akan  dikabulkan oleh Allah SWT.

Dalam hadist pun dijelaskan mengenai sholat hajat, Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa yang berwudhu & paripurna wudhunya, lalu sholat 2 raka’at (shalat hajat) & sempurna raka’atnya, maka Allah berikan apa yang dia pinta cepat atau lambat.” (HR.Ahmad)

Berdasarkan hadist tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘allaihi wasallam pun mengajarkan bahwa kita senantiasa buat meminta kepada Allah SWT melalui shalat bila sedang dalam syarat memilliki hajat.

Keutamaan Shalat Hajat


Untuk rapikan cara sholat hajat sendiri termasuk gampang buat dikerjakan. Dalam rapikan cara sholat hajat, waktu yang dilakukan mampu kapan saja kecuali dalam waktu yg dilarang buat mengerjakan shalat.

tata cara sholat hajat


Shalat hajat dilakukan antara dua sampai 12 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at. Selain berdo’a buat menerima harapan, melakukan sholat hajat pun mempunyai poly keutamaan antara lain:

  • Mendapatkan pahala dari Allah SWT
  • Mendekatkan diri kepada Allah SWT
  • Mendapatkan perasaan yg tenang4. Rasa tawakal yg lebih kuat

Tata Cara Sholat Hajat


Pada tata cara sholat hajat yg nir ada larangan saat mengerjakan selain di ketika yang memang tidak boleh sholat, hal ini dimaksudkan engkau  dihentikan buat mengerjakan setelah shalat subuh hingga matahari terbit & jua sesudah saat ashar hingga mentari  terbenam.

Namun buat saat terbaik yang sanggup engkau  kerjaakan buat sholat hajat ialah ketika malam hari. Terutama pada sepertengah atau sepertiga akhir malam

Tata cara sholat hajat tidak memiliki perbedaan dengan sholat-sholat lainnya. Namun yg membedakan terletak pada niatnya. Dan tentunya sebelum melaksanakan sholat kamu diharuskan suci dari hadast mini   ataupun hadast besar  menjadi keliru satu kondisi sahnya sholat. Baik itu suci pakaian, tempat sholat dan badan.

Dan berikut tata cara sholat hajat lengkap yg mustajab yg sudah dirangkum dari aneka macam asal.

1. Niat Sholat hajat

Niat dalam  sholat hajat juga diucapkan pada hati misalnya dalam biasanya. Lantaran yang terpenting merupakan niat hanya semata karena Allah menggunakan hati yg lapang dada dan juga mengharap ridha-Nya. Dan berikut lafadzh niat shalat hajat:
“ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillahi ta’ala”
yang merupakan: “Aku berniat shalat hajat sunnah hajat 2 raka’at karena Allah Ta’ala”

2. Membaca doa Iftitah dan Al-fatihah

Urutan ke 2 dalam rapikan cara sholat hajat merupakan membaca do’a istitah sehabis takbiratul ikhram. Berikut bunyi dari do’a iftitah:

“Allaahu Akbaru kabiiraw-walhamdu lillaahi katsiiran, wa subhaanallaahi bukrataw-wa’ashiila. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal ardha haniifam-muslimaw-wamaa anaa minal musyrikiina. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiina”

Setelah membaca do’a iftitah dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah. Karena bila tidak membaca surat Al-Fatihah makan sholatnya nir absah. Hal ini dikarenakan Al-Fatihah merupakan bacaan wajib  setiap sholat.

3. Membaca suratan pendek

Membaca suratan pendek bisa dilakukan menggunakan membaca surat yg biasa dibaca ketika melakukan sholat. Tetapi pada rapikan cara sholat hajat ini, alangkah baiknya membaca surah Al-Ikhlas dalam raka’at pertama ataupun Surat Al-Karifuun sebanyak tiga kali.. Sedangkan untuk rakaat kedua engkau  mampu membaca ayat kursi.

4. Ruku menggunakan tuma’ninah
5. I’tidal dengan tuma’ninah
6. Sujud menggunakan bacaan tuma’ninah
7. Duduk diantara 2 sujud menggunakan tuma’ninah
8. Sujud ke 2 menggunakan tuma’ninah
9. Melakukan Raka’at keduaDalam melakukan raka’at ke 2 tata cara sholat hajat yg dilakukan sama menggunakan rokaat pertama. Namun pada raka’at kedua suratan pendek yg usahakan dibaca ialah ayat kersi. Meskipun kamu sanggup membca surat lainnya.
10. SalamSetelah raka’at ke 2 terselesaikan, kamu bisa mengakhirinya dengan salam. Tetapi apabila engkau  ingin melanjutkan sholat hajat, engkau  mampu kembali berdiri selesainya melakukan salam.

Setelah melaksanakan sholat hajat engkau  jua dianjurkan buat membaca doa-doa pada sholat hajat. Dan akan lebih baik bila kamu melakukan sujud dengan maksud tadzallul selesainya salam. Hal ini dimaksudkan buat merendahkan diri pada Allah Ta’ala.

Baca juga: Tata Cara Sholat Dhuha

Dan ketika sujud ini dilakukan kamu mampu membaca:

“Subhahanallah walhamdulillah walaailaaha illallah waallahu besar  walaa haula wa quwwata illaa billahil ‘aliiyil ‘adzim” sebesar 10 kali.

Setelahnya kamu membaca “ Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad” sebesar 10 kali juga
Dan terakhir kamu membaca doa keselamatan dunia & akhirat “Rabbanaa aatinaa fidunyaa hasanah wa fil’akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban nar”

Do’a Sholat Hajat


Dalam tata cara shalat hajat, kamu dianjurkan buat membaca doa setelah terselesaikan sholat hajat. Dan dilansir berdasarkan Dream.Co.Id berikut tata cara doa selepas sholat hajat.:

1. Bertawassul menggunakan membaca surat Al-Fatihah kepada Rasulullah beserta keluarganya, para shabat, ulama, guru, orang tua & semua umat muslim.

2. Setelah membaca Al-fatihah dilanjutkan membaca surat Al-Falaq, An-Naas serta Ayat Kursi dimana masing-masing sebanyak 3 kali.

3. Dilanjutkan dengan membaca doa sholat hajat.

LAA ILAHA ILLALLOHUL HALIIMUL KARIIMU SUBHAANALLOHI ROBBIL ‘ARSYIL ‘AZHIIM. ALHAMDU LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN. Alaihi Salam `ALUKA MUUJIBAARI ROHMATIKA WA ‘AZAAIMA MAGHFIROTIKA WAL GHONIIMATA MING KULLI BIRRI WASSALAAMATA MING KULLI ITSMIN LAA TADA’ LII DZAMBAN ILLA GHOFARTAHU WALAA HAMMAN ILLAA FAROJTAHU WALAA HAAJATAN HIYA LAKA RIDHON ILLA QODHOITAHAA YAA ARHAMAR ROOHIMIIN

4. Setelah membaca doa diatas, kamubisa memnyampaikan segala impian & hajat menggunakan bahasa kamu. Lantaran doa yang baik artinya doa yg dapat dimengerti maknanya.

Melakukan sholat hajat pun nir dibatasi oleh saat. Kamu sanggup melaksanakan sholat hajat sesering mungkin. Hal ini dikarenakan selama masih hayati impian dan dan hajat akan terus terdapat, sehingga sholat & bisnis pula harus tetap dikerjakan beriringan.

Itulah informasi tentang tata cara sholat hajat yang benar yang sebmoga bermanfaat untuk anda.

Baca selengkapnya »
Tata Cara Sholat Taubat Nasuha serta Doanya

Tata Cara Sholat Taubat Nasuha serta Doanya

Tahukah anda bagaimana tata cara sholat taubat bagi orang yg benar-benar melakukan taubat dengan sungguh sungguh serta apakah wajib melakukan sholat taubat?

Taubat dlm bahasa Arab bermakna arruju’ (الرجوع) yaitu kembali. Maksudnya kembali dari dosa-dosa. Secara istilah di dlm andab Kifayah At-Thalib Ar-Rabbani serta pula andab Lisanul Arab, taubat itu didefinisikan sebagai :

الرُّجُوعُ مِنْ أَفْعَالٍ مَذْمُومَةٍ إِلَى أَفْعَالٍ مَحْمُودَةٍ شَرْعًا

Kembali dari berbagai perbuatan yg tercela kepada perbuatan yg terpuji secara syariah.

Dikutip dari rumahfiqih.com adapun sholat taubat adalah sholat yg disyariatkan untuk dikerjakan oleh seorang hamba dlm rangka bertaubat kepada Allah SWT serta kembali dari dosa-dosa serta maksiat. serta sholat Taubat tidak disyariatkan kecuali seseorang sesertag bertaubat kepada Allah SAW.

tata cara sholat taubat



Jumhur ulama mengatakan bhw sholat taubat sebagai sholat yg masyru’ serta telah ditetapkan pensyariatannya lewat nash-nash syariah.

عن أبي بَكْرٍ الصديق رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ : مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ . ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ : وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata,”Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah ada seorang hamba yg melakukan perbuatan dosa, kemudian dia berwudhu’ dengan baik, mendirikan sholat dua rakaat, lalu minta ampun kepada Allah, kecuali pastilah Allah SWT ampuni”. Kemudian beliau membaca ayat berikut : serta (pula) orang-orang yg apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka serta siapa lagi yg dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? serta mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sesertag mereka mengetahui. (HR. Abu Daud)

Dalil masyru’iyah dari sholat taubat ini pula terdapat dlm hadits yg lain :

عن أَبي الدَّرْدَاءِ قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ : مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا (شك أحد الرواة) يُحْسِنُ فِيهِمَا الذِّكْرَ وَالْخُشُوعَ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَفَرَ لَهُ

Dari Abi Ad-Darda’ r.a. berkata,”Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yg berwudhu’ serta membaguskan wudhu’nya itu, kemudian berdiri serta melakukan sholat dua rakaat atau empat rakaat (perawi hadits ini agak ragu), membaguskan dzikir serta khusyu’nya, kemudian meminta ampun kepada Allah azza wa jalla, pastilah Allah ampuni. (HR. Ahmad)

Baca juga Tata Cara Sholat Hajat

Seluruh ulama sepakat bhw bertaubat itu hukumnya wajib. Sebab taubat itu akan menghapus semua dosa yg pernah dilakukan.

Namun hukum sholat taubat berbeda dari hukum taubat itu sendiri. Umumnya para ulama tidak mewajibkan sholat taubat. Mereka hanya mengatakan hukumnya sunnah, sebagai pelengkap dari taubat yg dilakukan.

Selain itu sholat taubat pula tidak disyariatkan kecuali seseorang sesertag dlm proses bertaubat. Artinya, sholat taubat hanya dilakukan sesekali, tidak dilakukan tiap hari sebagaimana umumnya sholat-sholat sunnah rawatib.

Kalau pun tiap hari anda berdzikir serta dlm dzikir itu anda melafadzkan ucapan taubat serta sejenisnya, namun yg dimaksud tentu bukan taubat yg besar. Sehingga tidak disyariatkan untuk sholat taubat untuk sesutu yg sifatnya rutin.

Tata Cara Sholat Taubat yang Benar

Ada beberapa ketentuan dlm mengerjakan sholat Taubat, antara lain :

1. Dua atau Empat Rakaat

Sholat Taubat dikerjakan dengan dua rakaat sebagaimana disebutkan di dlm hadits Abu Bakar r.a..

ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

Mendirikan sholat dua rakaat. (HR. Abu Daud)

Namun di dlm hadits lainnya pula disebutkan dengan empat rakaat, sebab perawinya agar ragu dlm menyebutkan jumlah rakaatnya.

قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا (شك أحد الرواة


Kemudian berdiri serta melakukan sholat dua rakaat atau empat rakaat (perawi hadits ini agak ragu) (HR. Ahmad)

2. Sendirian Tidak Berjamaah

Sholat Taubat lebih utama dikerjakan dengan sendirian, sebab tidak termasuk jenis sholat yg disunnahkan untuk dikerjakan dengan cara berjamaah.

Bertaubat itu pula bukan sesuatu yg harus dipamerkan, sebab terkait dengan aib serta dosa yg pernah dilakukan oleh seseorang.

3. Banyak Beristighfar Seusainya

Dianjurkan seusai sholat Taubat dilakukan untuk memperbanyak istighfar serta permohonan ampunan dari Allah SWT. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

serta sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yg bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yg benar. (QS. Thaha : 82)

4. Tidak Ada Ayat Tertentu

Umumnya para ulama mengatakan bhw tidak ada ayat atau surat tertentu yg dianjurkan untuk dibaca dlm sholat Taubat ini.

Sehingga pada dasarnya surat serta ayat apa saja boleh dibaca serta sama nilainya di sisi Allah.

5. Memperbanyak Sedekah

Selain memperbanyak istighfar, dianjurkan apabila sholat Taubat telah ditunaikan, untuk memperbanyak sedekah.

Allah SWT berfirman :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ

Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali. serta jika kamu menyembunyikannya serta kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. serta Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; serta Allah mengetahui apa yg kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 271)

Ketika Ka’ab bin Malik r.a. telah bertaubat dari kesalahannya sebab tidak ikut dlm perang, beliau berkata kepada Rasulullah SAW :

يَا رَسُولَ الله إِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ أَنَخْلع مِنْ مَاليِ صَدَقَةً إِلىَ اللهِ وَإِلَى رَسُولهِ. قَالَ رَسُولُ اللهِ: أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ: فَإِنِيّ أُمْسِكُ سَهْمِي الَّذِي بِخَيْبَرَ . متفق عليه

Ya Rasulullah, sebagai tanda taubatku, aku lepaskan hak milikku dari hartaku untuk sedekah di jalan Allah serta Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda,”Tahanlah sebagian dari hartamu, sebab akan berguna bagimu”. Kaab berkata,”Aku masih punya bagian hartaku dari harta rampasan perang Khaibar. (HR. Bukhari Muslim)

6. Sah Dikerjakan Kapan Saja

Adapun kapan waktu untuk mengerjakan sholat Taubat ini, secara prinsipnya sholat Taubat sah serta boleh dilakukan kapan saja, baik siang atau pun malam. sebab sholat Taubat ini tidak terikat dengan waktu tertentu sebagaimana umumnya sholat Fardhu yg lima, atau beberapa jenis sholat sunnah yg lainnya.

Bahkan para ulama berpendapat bhw tidak ada larangan apabila sholat Taubat mau dikerjakan pada waktu-waktu yg terlarang untuk sholat sunnah mutlak sekali pun. sebab pada prinsipnya cara sholat taubat itu adalah sholat yg ada sebabnya secara syar’i.

Demikianlah artikel tentang tata cara sholat taubat bagi orang yg benar-benar melakukan taubat dengan sungguh sungguh serta apakah wajib melakukan sholat taubat?

Baca selengkapnya »
Tata Cara Mandi Wajib dengan Doa dan Niatnya

Tata Cara Mandi Wajib dengan Doa dan Niatnya

Bagaimanakah tata cara mandi wajib dengan doa dan niatnya? Pada postingan kali ini admin ingin berbagi tentang informasi yangg sangat penting ini karena sangat menentukan syah dan tidaknya ibadah lainnya. Karena itulah informasi tentang mandi junub ini amatlah penting.

Sesuai istilahnya, mandi wajib  adalah proses pembersihan fisik yg sifatnya harus bagi seseorang muslim. Tujuannya adalah buat membersihkan tubuh & mensucikan diri kembali menurut hadas akbar. Tata cara mandi wajib  pun sudah ada khaidahnya sendiri, jadi harus dilakukan menggunakan sahih.

Allah SWT berfirman:
"Dan bila kamu junub, maka mandilah." (QS. Al Maidah: 6)

Karena tidak terdapat insan yg terbebas berdasarkan hadas besar , maka sudah sewajarnya jika kita mengetahui tata cara mandi wajib  yg benar.

Tata Cara Mandi Wajib


Untuk Anda yg ingin membersihkan diri menurut hadas selesainya haid, syahwat, atau nifas, silakan simak rapikan cara mandi wajib  yang sahih di bawah ini.

Tata Cara Mandi Wajib yang Benar


Pada dasarnya rapikan cara mandi wajib  buat wanita yg baru terselesaikan haid, nifas, atau lelaki yg baru bersyahwat sama saja. Pembeda di sini merupakan niat yang dibaca sebelum bersuci.

Berikut ini tata cara mandi harus lengkap sesuai urutannya.

  1. Bacalah niat mandi wajib  atau mandi junub terlebih dahulu.
  2. Bersihkan telapak tangan sebesar tiga kali, lalu lanjutkan dengan membersihkan dubur dan indera kemaluan.
  3. Bersihkan kemaluan berikut kotoran yang menempel di sekitarnya menggunakan tangan kiri.
  4. Setelah membersihkan kemaluan, cuci tangan dengan menggosok-gosoknya dengan tanah atau sabun.
  5. Lakukan gerakan wudhu yg paripurna misalnya saat kita akan salat, dimulai menurut membasuh tangan hingga membasuh kaki.
  6. Masukkan tangan ke pada air, lalu sela pangkal rambut dengan jari-jari tangan hingga menyentuh kulit ketua. Jika sudah, guyur ketua menggunakan air sebanyak 3 kali. Pastikan pangkal rambut pula terkena air.
  7. Bilas semua tubuh dengan mengguyurkan air. Dimulai berdasarkan sisi yg kanan, lalu lanjutkan menggunakan sisi tubuh kiri.
  8. Saat menjalankan tata cara mandi harus, pastikan semua lipatan kulit & bagian tersembunyi ikut dibersihkan.

Tata cara mandi wajib pria


Ada hadits & beberapa anjuran yang tidak sama tentang tata cara mandi wajib  buat laki-laki .
Menurut HR At-Tirmidzi, menyela pangkal rambut hanya dikhususkan bagi laki-laki . Para perempuan   tidak perlu melakukan hal ini.

Berikut ini tata cara mandi wajib  menggunakan cara Nabi Muhammad SAW berdasarkan hadits Al Bukhari.

"Dari Aisyah istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi lantaran junub, dia memulainya menggunakan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudlu buat salat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air dan menggosokkannya ke kulit ketua. Setelah itu dia menyiramkan air ke atas kepalanya menggunakan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian dia mengalirkan air ke seluruh kulitnya." (HR. Al Bukhari)

"Dari Aisyah beliau mengungkapkan, "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi lantaran junub, maka dia memulainya dengan membasuh kedua tangan. Beliau menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, lalu membasuh kemaluan & berwudhu menggunakan wudhu buat salat. Kemudian beliau menyiram rambut sembari memasukkan jari ke pangkal rambut sampai homogen. Setelah selesai, dia membasuh kepala sebesar 3 kali, kemudian dia membasuh seluruh tubuh & akhirnya membasuh ke 2 kaki." (HR. Muslim)

Tata cara mandi wajib buat wanita


Untuk perempuan  , rapikan cara mandi harus sebenarnya sama saja. Tetapi wanita tidak perlu menyela pangkal rambut. Bahkan nggak perlu membuka jalinan rambutnya. Hal ini sinkron menggunakan acum HR At-Tirmidzi.

Dalam riwayat tersebut, Ummu Salamah bertanya pada Nabi Muhammad SAW, "Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku  ini wanita yg sangat bertenaga jalinan rambut kepalanya, apakah aku  boleh mengurainya waktu mandi junub? Maka Rasulullah menjawab, Jangan, sebetulnya relatif bagimu mengguyurkan air pada kepalamu 3 kali guyuran."

Jadi, rapikan cara mandi harus buat wanita adalah sebagai berikut.

  1. Bacalah niat mandi wajib  atau mandi junub terlebih dahulu.
  2. Bersihkan telapak tangan sebanyak 3 kali, kemudian lanjutkan dengan membersihkan dubur & alat kemaluan.
  3. Bersihkan kemaluan berikut kotoran yang menempel di sekitarnya dengan tangan kiri.
  4. Setelah membersihkan kemaluan, cuci tangan dengan menggosok-gosoknya dengan tanah atau sabun.
  5. Lakukan gerakan wudhu yang paripurna misalnya waktu kita akan salat, dimulai dari membasuh tangan sampai membasuh kaki.
  6. Bilas ketua menggunakan mengguyurkan air sebesar 3 kali.
  7. Bilas seluruh tubuh menggunakan mengguyurkan air. Dimulai dari sisi yg kanan, kemudian lanjutkan dengan sisi tubuh kiri. Pastikan semua lipatan kulit dan bagian tersembunyi ikut dibersihkan.


Demikian tata cara mandi wajib  yang benar buat wanita baik yg berniat membersihkan diri dari hadas besar  lantaran haid juga nifas.

Tata cara mandi wajib  sesudah berhubungan


Hadas besar  karena syahwat bisa disebabkan lantaran mimpi basah, keluarnya cairan mani, atau hubungan badan antara suami-istri. Untuk mensucikan diri pulang, orang yg berjunub harus mandi besar  atau mandi junub.

Berikut ini niat yang harus dibaca sebelum memulai rangkaian rapikan cara mandi wajib  setelah syahwat.

"BISMILLAHIRAHMAnggakAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBAR MINAL JANABATI FARDLON LILLAHI TA'ALA."

Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah aku  niat mandi untuk menghilangkan hadas akbar menurut jinabah, fardlu karena Allah Ta'ala."

Setelah membaca niat, lakukan ritual pencucian dengan tata cara mandi harus yg sudah dijabarkan sebelumnya.
Tata cara mandi harus sesudah nifas
apabila hadas besar  pada perempuan   disebabkan karena munculnya darah dari organ intim sehabis melahirkan atau nifas, maka niat mandi wajib  yang wajib  dibaca merupakan menjadi berikut.

"BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITU GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBAR MINAN NIFASI FARDLON LILLAHI TA'ALA."

Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah saya niat mandi buat menghilangkan hadas besar  menurut nifas, fardlu karena Allah Ta'ala."

Setelah pembacaan niat, lanjutkan dengan rapikan cara mandi wajib  buat wanita. Ingat, nggak perlu menyela pangkal rambut. Cukup diguyur menggunakan air bersih sebesar tiga kali.

Tata cara mandi harus istihadhah sehabis haid


Setiap bulan sebagian besar  wanita dewasa mengalami pendarahan dampak luruhnya dinding rahim yg tak dibuahi. Inilah yg disebut menstruasi atau haid.

Jika hadas akbar pada wanita disebabkan karena haid, makan rapikan cara mandi harus wajib  dimulai menggunakan membaca niat berikut.

"BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBAR MINAL HAIDI FARDLON LILLAHI TA'ALA."
Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah aku  niat mandi buat menghilangkan hadas besar  dari haidl, fardlu karena Allah Ta'ala."

Setelah membaca niat, lanjutkan rapikan cara mandi wajib  buat perempuan   seperti biasa. Pastikan seluruh bagian tubuh dibersihkan menggunakan sempurna, sampai ke bagian yang tersembunyi sekalipun.

Demikian tata cara mandi wajib buat pria maupun perempuan  yang sebaiknya anda tahu.
Baca selengkapnya »
Tata Cara Sholat Dhuha dan Bacaan Doanya

Tata Cara Sholat Dhuha dan Bacaan Doanya

Pada artikel kali ini admin ingin berbagi tata cara sholat dhuha dan bacaan doanya yang semoga bermanfaat untuk anda yang sedang membutuhkan. Sholat dhuha adalah sholat sunnah yang dilaksanankan selesainya fajar terbit, dan pelaksanaannya yaitu sampai menjelang sholat dhuhur. Shalat dhuha dilakukan minimal dua rakaat dan sebesar – banyaknya 12 rakaat.

Dalam pengerjaan sholat dhuha kaitannya dengan waktu, para ulama membagi dua bagian. Pertama yaitu waktu sughro, yakni dilaksanakan hingga pertengahan hari. Yang kedua yaitu kubro. Yakni dilaksankan ketika menjelang sholat dhuhur tiba.

Adapun pembagian tadi tidak mempengaruhi apa – apa, & semua itu tergantung keleluasaan masing – masing untuk mengerjakannya.

Shalat dhuha adalah sholat sunnah yang dipercaya istimewa. Bahkan merupakan sholat sunnah yang diwasiatkan spesifik oleh nabi.

“Diriwayatkan berdasarkan Abu Hurairah bahwa beliau mengatakan, ‘Kekasihku (Rasulullah) memberikan pesan (wasiat) kepadaku dengan 3 hal yg tidak pernah saya tinggalkan hingga saya tewas nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur pada keadaan telah mengerjakan shalat witir.” (HR. Bukhari).

tata cara sholat dhuha


Dari hadist tersebut, telah jelas, keliru satu wasiat Rasulullah buat umatnya yaitu shalat dhuha. Saking istimewanya bahkan Rasulullah menyampaikan demikian. Karena apa – apa yang diperintahkan oleh Rasulullah niscaya menaruh kebaikan bagi umatnya bila dia melaksanakannya.
Dijelaskan juga bahwa shalat dhuha adalah keliru satu contoh orang – orang yg taat. Seperti dijelaskan pada hadist berikut :

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Kekasihku (Muhammad) mewasiatkan kepadaku 3 masalah yang saya nir meninggalkannya: supaya saya tidak tidur kecuali sehabis melakukan shalat witir, agar aku  nir meninggalkan 2 rakaat shalat Dhuha lantaran beliau merupakan shalat awwabin dan agar aku  berpuasa tiga hari setiap bulan” (HR. Ibnu Khuzaimah; shahih)

Keutamaan Sholat Dhuha


Dalam sholat dhuha, ada beberapa keutamaan jika kita melaksanakannya :

1. Dimudahkan urusan dalam mencari rejeki

Salah satu keistimewaan sholat dhuha adalah permohonan buat dimudahkannya dalam mencari rejeki. Bahkan ketika kita sebelum melakukan suatu pekerjaan ataupun kegiatan kita dianjurkan buat melaksanakan sholat dhuha setidaknya dua rakaat.

Maksud berdasarkan sholat dhuha sendiri artinya buat memohon dilancarkannya mencari rejeki. Jika sulit maka dimudahkan, bila sedikit maka dilimpahkan dan jika jauh maka didekatkan.

2. Sholat dhuha sebagai penggugur dosa

Seperti pada hadist yg dijelaskan bahwa “Barangsiapa yang menjaga shalat Dhuha, maka dosa-dosanya diampuni walaupun dosanya itu sebesar buih dilautan” (HR. Tirmidzi)
Salah satu amalan yg bisa kita lakukan yg dapat menggugurkan dosa artinya melaksanakan shalat sunnah dhuha, siapa yg melakukan shalat dhuha dengan lapang dada & lillahitaala insyaallah dosa – dosanya akan diampuni meskipun dosa tadi sebesar buih dilautan.

3. Dijanjikan menggunakan rumah di nirwana

Barangsiapa yg mengerjakan sholat dhuha sebesar 12 rakaat maka Allah akan meberikan ganjaran yaitu dibangunkannya rumah pada surga . Maka sebaik – baiknya insan, maka hendaknya ia meluangkan waktunya buat melakukan sholat dhuha 12 rakaat karena ganjaran yang diberikan oleh Allah tak tanggung – tanggung. Hal ini dijelaskan dalam hadis Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda :

“Siapa saja yang shalat Dhuha 12 rekaat, Allah akan membuat untuknya sebuah istana yang terbuat menurut emas di nirwana” (HR. Ibnu Majah)

4. Pahalanya setara menggunakan pahala umrah

Hadist menurut Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yg keluar berdasarkan rumahnya dalam keadaan bersuci buat melaksanakan shalat harus maka pahalanya seperti seorang yg melaksanakan haji. Barangsiapa yg keluar buat melaksanakan shalat Dhuha maka pahalanya misalnya orang yg melaksanakan umrah.” (Shahih al-Targhib : 673)

Dari hadist tersebut dijelaskan bahwa keutamaan shalat dhuha ketika kita melaksanakannya yaitu pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah. Dari sini kita bisa melihat bahwa, poly sekali laba bagi kita yang melaksanakannya.

5. Meraih ghanimah atau keuntungan yg lebih cepat

Dijelaskan bahwa orang yang melaksanakan shalat sunnah dhuha akan mendapatkan laba yang lebih cepat atas biar   Allah SWT.

Seperti pada jaman dahulu saat rakyat muslim berperang di medan perang, mereka yg melaksanakan shalat dhuha sebelum berperang mereka lebih cepat balik  pergi ke loka asalnya sekaligus membawa harta rampasan serta kemenangan.

Hal ini sebagaimana sabda rasullulah SAW yg bunyinya :

“Perolehlah keuntungan (ghanimah) & cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (loka) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yg akan diperoleh & cepat kembali (lantaran dekat jaraknya). Lalu Rasulullah saw bersabda; “Maukah kalian saya tunjukan kepada tujuanpaling dekat menurut mereka (musuh yg akan diperangi), paling poly ghanimah(laba)nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab: “Ya! Rasul menyampaikan lagi:
“Barangsiapa yg berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid buat melakukan shalat Dhuha, dialah yang paling dekat tujuannya (tempat perangnya), lebih poly ghanimahnya & lebih cepat kembalinya”

Ini merupakan menjadi salah  satu bukti bahwa shalat dhuha bisa memperlancar segala urusan. Bahkan Rasulullah sendiri pun menganjurkannya.

Jika kita sebelum melakukan kegiatan & kita melaksanakan shalat sunnah dhuha minimal dua rakaat insyaallah akan dilancarkan segala urusan dan dihindarkan berdasarkan segala rintangan yg terdapat.

Waktu Sholat Dhuha


Waktu shalat dhuha dimulai semenjak matahari naik sampai condong ke barat. Di Indonesia, ketika shalat dhuha berarti berlangsung selama beberapa jam dimulai semenjak 20 mnt setelah matahari terbit hingga 15 mnt sebelum masuk saat dhuhur.

Baca juga: Tata Cara Sholat Tahajud

Waktu buat melakukan sholat dhuha yg lebih utama adalah 1/4 siang. Di Arab, saat itu ditandai dengan padang pasir terasa sangat panas & anak unta beranjak. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Bahwasanya Zaid bin Arqam melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha (pada awal pagi). Dia berkata, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat orang-orang awwabin (taat; kembali pada Allah) adalah waktu anak unta mulai kepanasan’” (HR. Muslim)

Tata Cara Sholat Dhuha


Adapun tata cara aplikasi shalat dhuha yaitu dilaksanakan paling sedikit yaitu dua rakaat & sebesar – poly 12 rakaat.

Dianjurkan jua membaca surat yg sudah ditentukan, meskipun ini nir harus tetapi alangkah lebih baik ketika sholat dhuha surat ini dibacakan.

Bacaan surat pendek yang dibaca pada saat sholat dhuha dalam rakaat yg pertama artinya membaca surat Asy – Syam & dalam rakaat ke 2 yaitu surat Al – Lail.

Niat Sholat Dhuha


Berikut niat sholat dhuha.

sholli sunnatan Dhuha Rak’ataini Lillahi Ta’ala

Arti Lafadz Niat Sholat Dhuha:

“Aku Shalat Sunah Dhuha Dua Raka’at, Karena Allah Ta’ala.”

Adapun lafadz niat sholat dhuh yg lebih panjang sebagai berikut:
Usholli sunnatadh dhuhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa
Artinya: “Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat menghadap kiblat waktu ini lantaran Allah Ta’ala”

Doa Setelah Sholat Dhuha


Adapun anjuran selesainya melakukan sholat dhuha yaitu untuk membaca doa sholat dhuha. Tetapi, tidak dibatasi apabila kita mau berdoa sendiri sesuai menggunakan apa yg kita inginkan.
Tetapi sebaiknya apapun doa kita lebih baik doa ini diselipkan setiap kita terselesaikan melakukan shalat sunnah dhuha. Adapun doa sholat dhuha artinya sebagai berikut :

Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibadikash shalihin.

Arti Doa Setelah Sholat Dhuha

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya saat dhuha merupakan saat dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan merupakan keindahan-Mu, kekuatan merupakan kekuatan-Mu, penjagaan merupakan penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada pada atas langit maka turunkanlah, apabila berada pada dalam bumi maka keluarkanlah, bila sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah menggunakan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yg soleh”.

Demikianlah informasi tentang tata cara sholat dhuha dan bacaan doanya yang semoga bermanfaat.

Baca selengkapnya »
Beranda